Bukan Cuma Kebab, Turki Punya Tradisi Sarapan dengan Beragam Hidangan di Meja
Sezai menggambarkan kebiasaan tersebut sebagai bagian dari budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Dia membandingkannya dengan kebiasaan masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.
"Di Indonesia ada budaya mal, sedangkan di Turki ada budaya sarapan," katanya.
Perbandingan itu menggambarkan bagaimana aktivitas sederhana dapat berkembang menjadi kebiasaan sosial. Jika pusat perbelanjaan menjadi salah satu tempat masyarakat Indonesia menghabiskan waktu luang, sarapan bersama juga menjadi pilihan bagi masyarakat Turki untuk menikmati akhir pekan.
Tradisi kahvalti keyfi memperlihatkan bahwa pengalaman kuliner tidak selalu berkaitan dengan makanan mewah atau sajian yang rumit. Cara menikmati makanan dan waktu yang diluangkan bersama orang lain juga menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.
Di tengah kehidupan perkotaan yang serba cepat, sarapan sering kali dilakukan sambil bersiap menjalani aktivitas. Tidak sedikit orang yang memilih makanan praktis agar bisa segera berangkat bekerja atau bersekolah.
Kebiasaan menikmati sarapan lebih lama saat akhir pekan menawarkan sudut pandang berbeda. Waktu makan bisa menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas, berbincang dengan keluarga, dan menikmati hidangan tanpa terus-menerus melihat jam.
Kesamaan antara kebiasaan sarapan di Indonesia dan Turki pada akhirnya bukan semata-mata terletak pada jenis makanan yang disajikan. Lebih dari itu, keduanya memperlihatkan bagaimana meja makan dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan.
Dari roti, keju, zaitun, hingga hidangan telur dan daging, sarapan tradisional Turki menawarkan pengalaman kuliner yang beragam. Namun, di balik aneka makanan tersebut, ada nilai sederhana yang juga akrab bagi masyarakat Indonesia: menikmati makanan terasa lebih bermakna ketika dilakukan bersama orang-orang terdekat.
Editor: Muhammad Sukardi