Kenapa Kopi Specialty Cenderung Mahal? Ternyata Bukan Cuma soal Biji
Salah satunya melalui penggunaan nama lagu daerah Indonesia sebagai identitas produk. Namun, bagi Felix, pendekatan tersebut bukan sekadar soal pemberian nama, melainkan cara untuk memperkenalkan kembali cerita budaya melalui secangkir kopi.
Salah satu contohnya adalah Cublak Suweng, yang digunakan sebagai nama premium roastery blend dengan perpaduan kopi Gayo, Aceh dan Temanggung, Jawa Tengah.
"Cerita yang kami ambil berasal dari lagu-lagu folklor Indonesia. Semuanya memiliki makna yang dalam. Kami ingin membawa cerita dari Sabang sampai Merauke dan menjadikannya bagian dari perjalanan menikmati kopi," ujar Felix.
Pada akhirnya, harga kopi specialty menjadi lebih mudah dipahami jika kopi tidak hanya dilihat sebagai komoditas berupa biji yang kemudian diseduh.
Di balik satu cangkir kopi terdapat rantai panjang yang melibatkan petani, pemetik, prosesor, roaster, hingga barista. Masing-masing memiliki peran dalam menentukan apa yang akhirnya sampai ke tangan konsumen.
Karena itu, ketika menikmati kopi specialty, yang dibayar konsumen bukan hanya secangkir minuman dengan profil rasa tertentu, tetapi juga proses, pengetahuan, keterampilan manusia, serta cerita budaya yang menyertainya.
Editor: Muhammad Sukardi