Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Situasi Terkini Area Kuliner di Kalibata usai Dibakar Buntut 2 Matel Tewas Dikeroyok
Advertisement . Scroll to see content

Sering Terlambat Makan Malam, Ini Risiko yang Akan Dihadapi

Rabu, 15 Juli 2020 - 22:37:00 WIB
Sering Terlambat Makan Malam, Ini Risiko yang Akan Dihadapi
Waktu tepat makan malam (Foto : bon appetit)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Bagi sebagian orang, makan malam menjadi kebiasaan rutin yang dilakukan setiap hari. Bahkan, bagi sebagian besar orang Asia, dikenal memiliki kebiasaan makan malam lebih awal. Tapi apakah kebiasaaan itu sehat dan berdampak positif bagi kesehatan tubuh manusia?

Satu studi skala kecil yang baru dilakukan di Amerika Serikat (AS) menyarankan bahwa makan malam menjelang tengah malam dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan.

Studi ini dilakukan oleh para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins. Studi melibatkan 10 pria dan 10 wanita. Semuanya dalam kondisi sehat, dan meminta mereka untuk makan malam pada dua waktu yang berbeda.

Satu kelompok diperintahkan makan malam pada pukul 18:00 sementara yang lainnya pada pukul 22:00. Mereka makan malam sebelum tidur di laboratorium pada pukul 23.00. Para partisipan mengonsumsi jumlah kalori dan kedua makanan mereka pun sama.

Para peneliti mencatat kadar glukosa, insulin, trigliserida, kortisol, dan penanda partisipan lainnya di malam hari dan keesokan paginya. Temuan ini, diterbitkan dalam Jurnal Endokrinologi & Metabolisme Klinik Masyarakat Endokrin.

Melansir dari World of Buzz, Rabu (15/7/2020) penelitian menunjukkan ketika para peserta makan malam, pada jam 10, kadar gula darah mereka lebih tinggi dan jumlah lemak yang terbakar lebih rendah. Hal ini terjadi meski makanan yang dikonsumsi mereka sama.

“Rata-rata, kadar glukosa puncak setelah makan malam sekitar 18 persen lebih tinggi, dan jumlah lemak yang terbakar semalam menurun sekira 10 persen dibandingkan dengan makan malam sebelumnya,” kata Penulis Studi, Chenjuan Gu, MD, PhD.

Lebih lanjut dia mengatakan, efek yang terlihat pada sukarelawan yang terbiasa makan malam telat waktu sama seperti pasien obesitas atau diabetes. Mereka tampak memiliki metabolisme yang terganggu.

Para peneliti menunjukkan penelitian sebelumnya menunjukkan telat makan malam dapat dikaitkan dengan obesitas dan sindrom metabolik. Ini merupakan kondisi, yang memengaruhi lingkar pinggang, kadar trigliserida tinggi, kadar kolesterol baik yang rendah, tekanan darah tinggi dan gula darah puasa tinggi.

Kondisi ini sama-sama dapat meningkatkan risiko kondisi kesehatan serius lainnya. Studi 2018 di Spanyol menemukan makan malam lebih awal, pada pukul 9 atau 10 malam, dan meninggalkan jeda setidaknya dua jam setelah makan baik untuk kesehatan

Kebiasaan ini tampaknya dikaitkan dengan risiko kanker payudara dan prostat yang lebih rendah. Mereka juga mencatat meskipun penelitian mereka kecil, itu lebih menyeluruh daripada hanya menyelidiki subjek.

Para peserta diminta untuk memakai pelacak aktivitas, dan diambil darahnya setiap jam saat tinggal di laboratorium. Mereka juga menjalani studi tidur dan scan lemak tubuh.

“Studi ini memberi penerangan baru tentang bagaimana makan larut malam memperburuk toleransi glukosa dan mengurangi jumlah lemak yang terbakar. Efek dari keterlambatan makan sangat bervariasi antara orang-orang dan tergantung pada waktu tidur mereka,” terang Penulis Studi, Jonathan C. Jun, MD.

Studi ini menunjukkan, beberapa orang mungkin lebih rentan terhadap kebiasaan terlambat makan malam daripada yang lain. Jika hal ini terus terjadi secara kronis, maka kebiasaan telat makan malam dapat menyebabkan konsekuensi seperti diabetes atau obesitas.

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut