Menteri Investasi Bahlil Lahadalia optimistis target investasi yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar Rp1.200 triliun bakal tercapai. (Foto: ist)
Iqbal Dwi Purnama

SURAKARTA, iNews.id - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia optimistis target investasi yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar Rp1.200 triliun bakal tercapai. Dia mengakui cukup berat merealisasikan hal tersebut hingga kuartal IV 2022.

Bahlil menyebut terdapat sejumlah sentimen global dan inflasi di dalam negeri yang dapat mengganggu realisasi target investasi. 

"Kalau ditanya bagaimana investasi dalam target Rp1.200 triliun, oleh tim saya yang dipimpin Pak Imam, sampe dengan sekarang Insya Allah masih on the track. Rp1.200 triliun masih oke," ujar Bahlil dalam Media Gathering di Surakarta, Kamis (7/7/2022).

Bahlil menambahkan, untuk merealisasikan target investasi tersebut pihaknya bakal terlebih dahulu mengeksekusi investasi-investasi yang mendapatkan fasilitas insentif fiskal, seperti tax holiday. Meski demikian realisasi target investasi bukan tanpa tantangan menurut Bahlil.

"Jadi di samping kita mencari investasi dari luar, kita mem-push yang sudah ada di dalam. Dari target itu problemnya ada beberapa, salah satu di antaranya adalah persoalan perizinan, lahan, financial closing di bank," kata dia.

Adapun realisasi investasi pada kuartal II 2022, Kementerian Investasi optimis nilainya lebih besar dari pada yang terealisasi pada kuartal I 2022 sebesar Rp282,4 triliun, atau tumbuh 28,5 persen year on year (yoy).

"Gimana rumuskan apakah realisasi di Q2 akan sama atau lebih tinggi? Dalam grafik perencanaan realisasi investasi di Q2 harusnya lebih tinggi dari pada Q1, pak Deputi bagaimana?," ucap Bahlil langsung ke Deputinya.

"Insya Allah nyampe," jawab Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Kementerian Investasi/BKPM Imam Soejoedi.

Bahlil menjelaskan, investasi merupakan sebagai instrumen penciptaan lapangan pekerjaan. Sebab, ketika masyarakat telah mempunyai pekerjaan, maka daya beli masyarakat ditengah adanya krisis saat ini bisa tertolong.

"Angkatan kerja kita per tahun 2,9 juta, eksisting 7 juta, pengangguran akibat PHK karena covid 6 juta. Berarti siapa yang menciptakan lapangan kerja, pasti dari dunia usaha, dan instrumennya investasi," tuturnya.



Editor : Aditya Pratama

BERITA TERKAIT