Indonesia Sulit Penuhi Target Energi Bersih, Penyebabnya Regulasi hingga Harga

Djairan
Geotermal. (Foto: ilustrasi/Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Indonesia memiliki tantangan berat untuk mewujudkan target energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025. Penyebabnya dinilai masih seputar regulasi hingga harga yang belum ekonomis.

Abadi Poernomo, President of Indonesian Geothermal Association (Inaga) menyebut, pemerintah bersama DPR perlu membentuk regulasi yang lebih kuat sebagai dorongan untuk memenuhi target EBT.

"Saya berharap supaya UU EBT bisa segera menjadi prioritas. Lihat sekarang, bagaimana tidak sustain-nya regulasi kita, sudah berapa peraturan menteri (permen) yang terbit setiap tahun untuk pembangkit listrik EBT, ini kalau investor mau masuk jadi bingung, mana yang mau diikuti," katanya saat diskusi virtual, Rabu (3/6/2020).

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2015-2019 itu menilai, pandemi Covid-19 membuat upaya memenuhi target tersebut semakin sulit. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi tengah tertekan dan upaya untuk menggenjot EBT makin berat.

Staf Ahli Menteri ESDM, Sampe L Purba mengatakan, target penggunaan EBT hingga 23 persen dari total energi membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Pandemi Covid-19 semakin mempersulit upaya mencapai target itu.

Editor : Rahmat Fiansyah
Artikel Terkait
2 hari lalu

Wamen ESDM Sebut EBT Bikin Harga Listrik Lebih Murah, Begini Dampaknya ke Industri

2 hari lalu

Wamen ESDM Ungkap Subsidi Energi RI Bisa Bengkak hingga Rp700 Triliun, Ini Penyebabnya

2 bulan lalu

Audit BPK Bongkar Temuan, ESDM Kembalikan Rp2,3 Triliun ke Kas Negara

2 bulan lalu

Siapkan BBM Baru E20, Pemerintah Butuh 4 Juta Kiloliter per Tahun

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal