Kajian Ombudsman: 72 persen konsumen tidak tahu teknis pendaftaran MyPertamina
Mochamad Rizky Fauzan

JAKARTA, iNews.id - Kajian cepat Ombudsman Republik Indonesia menyebut, sebanyak 72,9 persen konsumen SPBU belum mendaftar aplikasi MyPertamina. Penyebab utama mayoritas responden (72 persen) belum mendaftar aplikasi MyPertamina karena tidak mengetahui teknis pendaftaran aplikasi tersebut.

Adapun pemerintah mewacanakan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, salah satunya dengan mewajibkan pembeli menggunakan aplikasi MyPertamina untuk bertransaksi.

“Penyebab utama mayoritas responden 72 persen belum mendaftarkan diri dalam aplikasi MyPertamina, yaitu tidak mengetahui teknis pendaftarannya,” kata Anggota Ombudsman RI Hery Susanto dalam keterangannya, Jumat (26/8/2022).

Sementara itu, sebanyak 25,5 persen responden lainnya telah mendaftar. Sedangkan 1,6 persen responden tidak menjawab.

Hery mengatakan, kajian tersebut dilakukan dengan mewawancarai 781 responden secara purposive random sampling. Responden diambil dari 66 SPBU di 31 provinsi yang menerapkan aplikasi MyPertamina. Survei dilakukan pada kurun waktu 8-12 Agustus 2022.

Ombudsman hanya memilih responden yang menggunakan mobil pribadi di bawah 1.500 cc, pengendara motor di bawah 250 cc, angkutan umum, serta pengendara angkutan barang. Menurut Hery, berdasarkan survei tersebut, terungkap mayoritas pembeli di SPBU merupakan pengguna BBM yang mendapat subsidi, yakni Pertalite 76,4 persen dan Solar 21,4 persen.

Selain itu, didapatkan data 82 persen responden memiliki penghasilan antara kurang dari Rp500.000 hingga Rp4,5 juta.

“Hal tersebut menunjukan bahwa responden konsumen SPBU didominasi oleh golongan masyarakat menengah ke bawah,” ujarnya.

Karena itu, menurut Hery, wacana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi tidak tepat dilakukan saat ini. Pasalnya, jumlah pengguna Pertalite dan Solar di atas 70 persen. Ombudsman memandang menaikkan harga BBM akan menimbulkan keresahan masyarakat dan menimbulkan inflasi.

“Jika pertalite naik jadi Rp10.000 per liter, maka kontribusinya terhadap inflasi diprediksi mencapai 0,97 persen,” ucap Hery.


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT