Situasi Krisis, Redenominasi Rupiah Bisa Picu Inflasi Tinggi

Rina Anggraeni
Pengamat ekonomi Indef, Bhima Yudhistira Adinegara. (Foto: iNews.id/Rully Ramli)

Kenaikan biasanya terlihat kecil secara nominal, meski secara riil cukup lumayan. Dia mencontohkan, harga barang A sebelum redenominasi Rp9.500 per unit, kemudian menjadi Rp9,5 pasca redenominasi. Sebagian besar pedagang kemungkinan akan membulatkan menjadi Rp10.

"Ada pembulatan nominal baru ke atas, akibatnya harga barang akan naik signifikan. Ini sulit dikontrol oleh pemerintah dan BI. Akibatnya apa? inflasi besar-besaran bahkan bisa mengakibatkan krisis kalau tidak hati-hati," katanya

Selain itu, kata Bhima, momentum pemulihan ekonomi saat ini sebaiknya jangan muncul kebijakan yang kontraproduktif. Penyesuaian terhadap nominal mata uang akan berdampak besar pada sistem administrasi dan akuntansi puluhan juta perusahaan di Indonesia.

"UMKM saja ada 62 juta unit usaha. Alih-alih mau pemulihan ekonomi, mereka sibuk mengatur soal nominal harga di barang yang dijual, bahan baku, bahkan administrasi perpajakan," katanya.

Meski begitu, Bhima tak menampik redenominasi rupiah bisa berdampak positif. Ekonomi bisa meningkat akibat adanya kebijakan ini.

"Kalau kondisi ekonomi sudah stabil, redenominasi bisa untung," ucapnya.

Editor : Rahmat Fiansyah
Artikel Terkait
Makro
12 hari lalu

Inflasi Maret 2026 Sebesar 0,41% Didorong Harga BBM hingga Daging Sapi

Makro
12 hari lalu

BPS Catat Inflasi Maret 2026 Turun jadi 0,41% meski Puasa dan Lebaran

Megapolitan
28 hari lalu

Terungkap! Ini Penyebab Harga Telur Ayam di Bandung Melonjak Jelang Lebaran

Nasional
1 bulan lalu

Purbaya Ungkap Belum Ada Rencana Naikkan Harga BBM Subsidi usai Minyak Dunia Melonjak

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal