Garap Hilirisasi Tambang, Bos Inalum Minta Insentif dari Pemerintah

Isna Rifka Sri Rahayu
PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) ditugaskan pemerintah untuk membangun pabrik hilirisasi hasil tambang. (Foto: AFP)

Misalnya untuk produksi aluminium, membutuhkan 14.000 kWh per ton, copper smelter butuh 10.000 kWh per ton, nikel butuh 4.000 sampai 5.000 kWh per ton sehingga jika energi strategisnya mahal maka Indonesia tidak bisa berkompetisi di dunia.

Bahkan, lanjut dia, jika harga energi mahal bisa mematikan industri hilirisasi dalam negeri. Untuk bisa mendapatkan energi yang murah, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bisa jadi salah satu sumbernya.

"Indonesia punya potensi air, PLTA merupakan pembangkit listrik yang paling murah. Kami butuh dari dukungan pemerintah, potensi PLTA bisa dialokasikan untuk industri hilir minerba jadi global positioning jadi lebih murah," ucapnya

Dia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan usulan tersebut untuk memacu hilirisasi yang digarap Inalum beserta empat perusahaan lainnya di Holding Pertambangan.

"Tapi karena ini melibatkan beberapa kementerian, kami membutuhkan sinergi dan optimalisasi yang terintegrasi dari pendapatan negara di beberapa kementerian dihitung sekaligus sehingga bisa bisa dicari yang semaksimal mungkin bagi negara," tutur dia.

Editor : Ranto Rajagukguk
Artikel Terkait
Nasional
5 bulan lalu

Inalum Kantongi Rp8,03 Triliun dari Danantara untuk Garap Proyek Smelter Mempawah  

Bisnis
7 bulan lalu

Inalum Tunda Rencana IPO, Tunggu Restu Danantara

Bisnis
1 tahun lalu

Investasi Hilirisasi Sentuh Rp407,8 Triliun di 2024, Didominasi Smelter Mineral

Bisnis
1 tahun lalu

Wamen BUMN Buka-bukaan soal Peluang MIND ID dan Inalum Melantai di Bursa, Ini Katanya

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal