Misalnya untuk produksi aluminium, membutuhkan 14.000 kWh per ton, copper smelter butuh 10.000 kWh per ton, nikel butuh 4.000 sampai 5.000 kWh per ton sehingga jika energi strategisnya mahal maka Indonesia tidak bisa berkompetisi di dunia.
Bahkan, lanjut dia, jika harga energi mahal bisa mematikan industri hilirisasi dalam negeri. Untuk bisa mendapatkan energi yang murah, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bisa jadi salah satu sumbernya.
"Indonesia punya potensi air, PLTA merupakan pembangkit listrik yang paling murah. Kami butuh dari dukungan pemerintah, potensi PLTA bisa dialokasikan untuk industri hilir minerba jadi global positioning jadi lebih murah," ucapnya
Dia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan usulan tersebut untuk memacu hilirisasi yang digarap Inalum beserta empat perusahaan lainnya di Holding Pertambangan.
"Tapi karena ini melibatkan beberapa kementerian, kami membutuhkan sinergi dan optimalisasi yang terintegrasi dari pendapatan negara di beberapa kementerian dihitung sekaligus sehingga bisa bisa dicari yang semaksimal mungkin bagi negara," tutur dia.