JAKARTA, iNews.id – Impor seluruh jenis barang mengalami peningkatan yang signifikan pada bulan November 2017, terutama barang konsumsi. Peningkatan tersebut membuat surplus perdagangan pada bulan tersebut mengecil menjadi 127 juta dolar AS.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, surplus pada bulan November 2017 tercatat 127,1 juta dolar AS atau lebih kecil dibandingkan surplus pada bulan Oktober 2017 sebesar 895 juta dolar AS. Rendahnya surplus November karena impor yang tumbuh 19,62 persen secara year-on-year dan 6,42 persen secara month-to-month.
“November memang masih surplus 0,13 miliar dolar AS, tapi turun dari bulan sebelumnya. Tipis sekali surplusnya. Pergerakan ini perlu dicermati," kata pria yang kerap disapa Kecuk itu di Gedung BPS, Jakarta, Jumat (15/12/2017).
Kecuk menjelaskan, seluruh jenis barang impor mengalami kenaikan masing-masing 16,61 persen untuk bahan baku atau penolong, 27,73 persen untuk barang modal, dan 31,15 persen untuk barang konsumsi. Porsi impor bahan baku mendominasi sebesar 11,15 miliar dolar AS dengan porsi 73,57 persen diikuti barang modal sebesar 2,64 miliar dolar AS (17,44 persen) dan barang konsumsi senilai 1,36 miliar dolar (8,99 persen). Secara keseluruhan, impor pada bulan lalu mencapai 15,51 miliar dolar AS.
Dilihat dari jenis barang, peningkatan impor non-migas terbesar selama bulan November 2017 secara month-to-month adalah kelompok mesin dan pesawat mekanik sebanyak 378,5 juta dolar AS, peralatan listrik 168,2 juta dolar AS, perangkat optik sebesar 77,9 juta dolar, gandum 67,9 juta dolar AS, kembang gula 49 juta dolar AS, dan kapas 32 juta dolar AS.
Adapun secara kumulatif, impor sejauh ini mencapai 141,88 miliar dolar AS atau naik 15,47 persen. Adapun negara asal barang impor terbesar masih dari China dengan porsi 24,46 persen dari total impor diikuti Jepang dan Thailand.
"Porsi paling besar mesin dan pesawat mekanik, dan mesin atau peralatan listrik, itu barang yang paling banyak kita impor," ujarnya.