Peningkatan ULN publik turut dipengaruhi kenaikan ULN bank sentral. BI menyebut kenaikan tersebut terutama berasal dari meningkatnya kepemilikan nonresiden terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global yang kembali meningkat,” jelasnya.
Semetara itu, ULN swasta masih mencatat kontraksi. Pada Kuartal II 2026, ULN swasta berada di posisi 194,6 miliar dolar AS, turun 0,6 persen (yoy). Meski masih terkontraksi, penurunan tersebut lebih rendah dibandingkan Kuartal I 2026 yang mencapai 1,3 persen (yoy).
Kontraksi terutama berasal dari kelompok peminjam lembaga keuangan atau financial corporations. Kelompok tersebut mencatat kontraksi ULN sebesar 3,4 persen (yoy), membaik dibandingkan kontraksi 6,3 persen pada Kuartal I 2026.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian. Keempat sektor tersebut memiliki pangsa 79,4 persen dari total ULN swasta.
ULN swasta juga masih didominasi utang jangka panjang dengan porsi 75,7 persen dari total ULN swasta. BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat karena pengelolaannya menerapkan prinsip kehati-hatian.
Indikatornya terlihat dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 30,6 persen pada Kuartal II 2026. Selain itu, utang jangka panjang masih mendominasi dengan porsi 82,1 persen dari total ULN Indonesia.