YLKI: Cukai Rokok untuk Tambal Defisit BPJS Kesehatan Menyesatkan

Rahmat Fiansyah
ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

Kedua, Tulus khawatir langkah tersebut menimbulkan paradigma yang keliru di masyarakat bahwa merokok dianggap membantu pemerintah dan BPJS supaya tidak defisit. Padahal, argumen ini sesat pikir. "Para perokok merasa sebagai pahlawan tanpa tanda jasa," kata Tulus.

Ketiga, lanjut Tulus, kebijakan tersebut bisa berpotensi seolah-olah pemerintah berharap industri untuk menggenjot produksi rokok. Dengan kata lain, pemerintah berharap jumlah masyarakat yang sakit akibat rokok makin banyak.

"Padahal, data membuktikan bahwa salah satu jenis penyakit yang dominan diderita pesien BPJS adalah penyakit yang disebabkan oleh konsumsi rokok.  

Oleh karena itu, agar kebijakan menyuntik BPJS dengan cukai rokok tidak menjadi kebijakan yang menyesatkan bahkan kontra produktif," kata Tulus.

Oleh karena itu, dia meminta pemerinah untuk mengerem produksi rokok skala besar. Pemerintah harus berani memoratorium produksi rokok. Bila perlu menurunkannya. Kenaikan produksi rokok sama saja menambah risiko bagi BPJS.

Editor : Rahmat Fiansyah
Artikel Terkait
9 hari lalu

Suahasil Suntik Rp20 Triliun ke BPJS Kesehatan, Perkuat Kas dan Jamin Pembayaran Klaim

9 hari lalu

Prabowo Minta Pasien BPJS Dilayani Tanpa Dibeda-bedakan, Waktu Antrean Dipercepat

20 hari lalu

BPJS: Pembiayaan Penyakit Ginjal Capai Rp7 Triliun hingga Juni 2026

1 bulan lalu

Bantah Layanan Psikolog Puskesmas di Jakarta Tak Lagi Dicover BPJS? Ini Klarifikasi Pemprov DKI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal