YLKI: Cukai Rokok untuk Tambal Defisit BPJS Kesehatan Menyesatkan

Rahmat Fiansyah
ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

Kedua, Tulus khawatir langkah tersebut menimbulkan paradigma yang keliru di masyarakat bahwa merokok dianggap membantu pemerintah dan BPJS supaya tidak defisit. Padahal, argumen ini sesat pikir. "Para perokok merasa sebagai pahlawan tanpa tanda jasa," kata Tulus.

Ketiga, lanjut Tulus, kebijakan tersebut bisa berpotensi seolah-olah pemerintah berharap industri untuk menggenjot produksi rokok. Dengan kata lain, pemerintah berharap jumlah masyarakat yang sakit akibat rokok makin banyak.

"Padahal, data membuktikan bahwa salah satu jenis penyakit yang dominan diderita pesien BPJS adalah penyakit yang disebabkan oleh konsumsi rokok.  

Oleh karena itu, agar kebijakan menyuntik BPJS dengan cukai rokok tidak menjadi kebijakan yang menyesatkan bahkan kontra produktif," kata Tulus.

Oleh karena itu, dia meminta pemerinah untuk mengerem produksi rokok skala besar. Pemerintah harus berani memoratorium produksi rokok. Bila perlu menurunkannya. Kenaikan produksi rokok sama saja menambah risiko bagi BPJS.

Editor : Rahmat Fiansyah
Artikel Terkait
5 hari lalu

Megawati Minta Program BPJS Tak Diutak-atik: Saya Bikin buat Rakyat Jelata yang Sakit

7 hari lalu

Menkes Pastikan Iuran BPJS Kesehatan Tidak Naik Tahun Depan

10 hari lalu

 54 Juta Warga Belum Terlindungi BPJS Kesehatan, Ini Penyebabnya

10 hari lalu

Catat, Bayi Harus Didaftarkan BPJS Kesehatan Paling Lambat 28 Hari setelah Lahir

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal