Sementara, Joko Anwar mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini. Menurut Joko, kurasi Berlinale Forum sangat mementingkan relevansi sebuah karya terhadap situasi di negara asalnya.
"Section ini dikenal karena kurasinya yang tidak hanya terpaku pada narasi, tetapi juga kekuatan relevansi sosial dan politiknya," ujar Joko.
Senada dengan Joko Anwar, produser Tia Hasibuan juga melihat seleksi ini sebagai pengakuan atas bahasa sinema dan ide besar yang dibawa film karya Joko.
Dengan masuknya film itu ke Berlinale, ia juga menegaskan bahwa film tersebut merupakan karya genre yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga memiliki bobot gagasan dan bahasa sinema yang kuat.
Seleksi Berlinale Forum menempatkan Ghost in the Cell di hadapan komunitas sinema global, yaitu programmer festival, kritikus, kurator, dan pelaku industri yang menjadikan Berlinale sebagai salah satu acuan utama klender film dunia.
“Ini sekaligus sinyal yang membuat Ghost in the Cell sebagai film yang menjanjikan kekuatan cerita, Bahasa sinema, dan gagasan yang kuat dan menarik untuk segera dinikmati penonton bioskop Indonesia,” kata produser film Ghost in the Cell, Tia Hasibuan.