2. Asam Lambung Naik (GERD)
Gorengan mengandung kadar lemak tinggi yang dapat memicu relaksasi katup lambung. Hal ini berisiko menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan atau dikenal sebagai **gastroesophageal reflux disease (GERD)**.
Gejala yang muncul biasanya berupa rasa terbakar di dada (heartburn), mual, hingga rasa pahit di mulut. Kondisi ini dapat semakin parah pada orang yang memiliki riwayat maag.
Jika dibiarkan berulang, gangguan asam lambung dapat mengganggu kualitas ibadah dan aktivitas malam hari. Karena itu, penting membatasi konsumsi makanan berminyak saat berbuka.
3. Lonjakan Gula Darah
Banyak gorengan dibuat dari tepung putih dengan indeks glikemik cukup tinggi. Ketika dikonsumsi dalam kondisi perut kosong, makanan ini dapat memicu lonjakan gula darah secara cepat.
Setelah melonjak, kadar gula darah bisa turun drastis dalam waktu singkat. Dampaknya, tubuh terasa lemas dan mudah lapar kembali meski baru saja berbuka.
Dalam jangka panjang, pola seperti ini berpotensi memicu gangguan metabolisme. Terutama jika disertai konsumsi minuman manis berlebihan saat berbuka.
4. Risiko Kolesterol dan Penyakit Jantung
Sebagian besar gorengan dimasak menggunakan minyak dalam jumlah banyak. Tidak jarang, minyak tersebut digunakan berulang kali sehingga kualitasnya menurun.
Proses pemanasan berulang dapat menghasilkan lemak trans yang berbahaya bagi tubuh. Konsumsi lemak trans berlebihan berkaitan dengan peningkatan kolesterol jahat (LDL).
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan kardiovaskular lainnya. Dampaknya mungkin tidak terasa dalam waktu singkat, tetapi berpotensi serius dalam jangka panjang.