Modifikasi tersebut dilakukan untuk mengatasi salah satu tantangan terbesar xenotransplantasi, yakni sistem kekebalan manusia yang akan langsung mengenali organ hewan sebagai benda asing dan berusaha menghancurkannya.
Dalam kondisi normal, reaksi kekebalan terhadap organ babi dapat terjadi dengan sangat cepat. Karena itu, para ilmuwan melakukan sejumlah perubahan genetik untuk mengurangi bagian sel babi yang mudah dikenali sistem imun manusia, menambahkan elemen DNA manusia sebagai semacam "kamuflase", serta menonaktifkan virus yang tersembunyi di dalam DNA babi.
Perjalanan ginjal babi tersebut di dalam tubuh Andrews juga tidak sepenuhnya mulus.
Dokter menemukan tanda awal bahwa sistem kekebalan tubuh Andrews mulai melakukan penolakan terhadap organ tersebut. Namun, kondisi itu berhasil ditangani dengan menyesuaikan obat-obatan yang digunakan untuk menekan sistem imun.
Masalah lain muncul setelah sekitar enam bulan.
Pembuluh darah di dalam ginjal mulai mengalami kerusakan. Organ tersebut kemudian mengalami peradangan dan secara bertahap mulai kehilangan fungsinya.