Meski demikian, menurut dr Chandra, hasil treatment tetap dapat berbeda pada setiap orang. Faktor seperti struktur wajah, kondisi kulit, volume jaringan, usia, serta area yang menjadi perhatian harus dipertimbangkan oleh dokter.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum menjalani treatment aesthetic adalah facial assessment. Pasien sebaiknya tidak menentukan tindakan hanya berdasarkan tren atau hasil yang terlihat pada orang lain.
Pada Volulift 2.0, prosesnya diawali dengan konsultasi dokter dan facial mapping. Dokter kemudian mengevaluasi struktur serta kebutuhan wajah sebelum menentukan apakah treatment tersebut sesuai.
"Setiap wajah memiliki struktur dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendekatan kami selalu dimulai dari konsultasi dan evaluasi dokter. Volulift 2.0 bukan treatment yang diterapkan dengan pendekatan one-size-fits-all," kata dr. Chandra yang juga Director PT Satu Estetika Indonesia.
Facial mapping juga membantu dokter menentukan area yang perlu mendapat perhatian sehingga treatment dapat disesuaikan dengan karakter masing-masing wajah.