Pendekatan tersebut dapat dipertimbangkan pada pasien yang memiliki kekhawatiran seperti facial sagging, kehilangan volume wajah, jawline yang kurang terdefinisi, hingga facial asymmetry. Namun, adanya keluhan tersebut bukan berarti seseorang otomatis membutuhkan Volulift 2.0.
Keputusan mengenai tindakan tetap perlu didasarkan pada pemeriksaan dokter.
Tren perawatan estetika belakangan juga mulai bergeser. Banyak orang tidak lagi sekadar menginginkan perubahan wajah yang drastis, tetapi mencari hasil yang tetap mempertahankan karakter asli.
Risa Rosalita, Head of Marketing Stay Beauty Clinic, mengatakan konsumen saat ini semakin kritis dalam memilih prosedur kecantikan.
"Saat ini konsumen semakin well-informed. Mereka tidak hanya mencari treatment karena sedang menjadi tren, tetapi ingin memahami teknologi, proses, keamanan, serta apakah sebuah treatment memang sesuai dengan kebutuhan mereka," ujar Risa.
Hal ini menjadi penting karena prosedur estetika pada dasarnya bersifat personal. Treatment yang memberikan hasil baik pada satu orang belum tentu menghasilkan efek serupa pada orang lain.
Karena itu, konsultasi sebelum tindakan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari prosedur aesthetic treatment.