dr Tirta mencontohkan seseorang yang tetap mengikuti half marathon meski sedang demam dan hanya tidur selama dua jam. Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya karena dapat memicu rhabdomyolysis, yaitu kerusakan jaringan otot, serta acute kidney injury atau cedera ginjal akut.
"Contoh, ada orang demam, terus tidurnya cuma dua jam, lalu dia nekat half marathon di pagi. Dia akan kena dua penyakit itu, bisa riskan rhabdomyolysis sama acute kidney injury," ujarnya.
Dia menjelaskan, rhabdomyolysis terjadi ketika tubuh kehabisan cadangan energi sehingga mulai memecah massa otot sebagai sumber energi. Kerusakan otot yang terjadi dapat melepaskan zat-zat berbahaya ke dalam aliran darah dan membebani kerja ginjal.
"Rhabdomyolysis tuh ketika seseorang dalam kondisi pressure kuat, tubuh udah kehilangan cadangan energi, glikogen habis, fat habis, yang dipecah tuh adalah massa otot. Nah, massa otot kalau dipecah munculnya jadi sel otot yang pecah, jadinya rhabdomyolysis. Hancur itu, mati, kematian ending-nya," katanya.
Selain kerusakan otot, olahraga saat sakit juga dapat memicu acute kidney injury, yakni kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara tiba-tiba. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengancam keselamatan jiwa.
"Terus yang kedua acute kidney injury, ketika ginjal berhenti bekerja secara dadakan, ending-nya kematian," ujarnya.
Karena itu, dr Tirta mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan diri berolahraga ketika sedang sakit. Tubuh memerlukan waktu istirahat yang cukup, asupan nutrisi yang baik, serta cairan yang memadai agar sistem imun dapat bekerja maksimal melawan infeksi. Setelah benar-benar pulih, aktivitas olahraga dapat dilakukan kembali secara bertahap sesuai kondisi tubuh.