Menurut dia, keselamatan pasien dialisis seharusnya sudah dimulai ketika pasien masih berada pada tahap penyakit ginjal kronis dan masih memiliki waktu untuk memahami kondisinya.
Pada tahap tersebut, pasien dapat memperoleh edukasi mengenai pilihan terapi, mempersiapkan akses vaskular, serta mengambil keputusan bersama dokter dan keluarga.
"Keselamatan pasien dialisis tidak dimulai ketika mesin HD dinyalakan. Keselamatan dimulai jauh sebelumnya, ketika pasien masih punya kesempatan untuk dipersiapkan agar tidak masuk ruang dialisis dalam keadaan darurat," tegasnya.
Tingginya penggunaan kateter sebagai akses awal turut menjadi perhatian dalam forum tersebut. Dari perspektif bedah vaskular, dr. Akhmadu Muradi, Sp.B, Subsp.BVE (K) selaku Sekretaris Jenderal Perhimpunan Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular Indonesia (PESBEVI) menjelaskan, kateter double-lumen memang memiliki tempat dalam kondisi klinis tertentu, terutama keadaan darurat.
Namun, penggunaan yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko komplikasi.
"Kateter mungkin menjadi jalan keluar ketika pasien datang dalam keadaan darurat, tetapi tidak boleh menjadi solusi yang dibiarkan terlalu lama. Semakin panjang penggunaannya, semakin besar risiko komplikasi yang harus dihadapi pasien," jelas dr Akhmadu.