Setelah tiga bulan, kelompok yang beralih sepenuhnya ke produk tembakau alternatif menunjukkan penurunan kadar karbon monoksida yang lebih besar dibandingkan kelompok yang tetap merokok. Kadarnya dilaporkan mendekati tingkat yang umumnya ditemukan pada individu yang tidak merokok.
“Hasil ini menunjukkan bahwa kadar karbon monoksida pada kelompok yang beralih menurun hingga mendekati tingkat pada orang yang tidak merokok,” ujar Amaliya.
Menurut Amaliya, temuan tersebut berkaitan dengan pendekatan tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau. Pendekatan ini berfokus pada pengurangan paparan zat berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran rokok.
Meski demikian, Amaliya menekankan pentingnya edukasi berbasis bukti agar konsumen dewasa memahami pilihan yang tersedia beserta risikonya. Dia juga menegaskan berhenti merokok tetap menjadi pilihan utama untuk menghindari risiko kesehatan yang berkaitan dengan kebiasaan merokok.