dr Tirta sebelumnya menjelaskan posisi tidur yang dilakukan selama bertahun-tahun dapat memengaruhi postur tubuh. Kebiasaan yang keliru tidak selalu menimbulkan dampak secara langsung, tetapi efeknya dapat terakumulasi dalam jangka panjang.
“Sebenarnya ini yang menjawab harusnya dokter spesialis ortopedi sub-spine. Tapi jawabannya itu adalah fakta. Jadi jawabannya adalah memang betul, posisi tidur selama bertahun-tahun itu akan mempengaruhi postur,” katanya.
Dia juga menyoroti penggunaan bantal yang terlalu tinggi dan keras. Kebiasaan tersebut dapat membuat posisi leher tidak ideal selama tidur dan dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi postur.
“Contoh orang yang biasanya tidurnya pakai bantal keras tinggi, jadi dia nanti kalau jalan gini nih (bungkuk). Paling nanti usia 40 nyeri servikal, 57, matinya ya paling lumpuh, stroke, jepit,” ucap dia.
Sebab itu, penderita saraf terjepit sebaiknya tidak hanya berfokus pada posisi tidur, tetapi juga memastikan kasur dan bantal memberikan dukungan yang sesuai. Setiap orang dapat membutuhkan pengaturan berbeda berdasarkan lokasi gangguan, bentuk tubuh, serta kenyamanan saat tidur.
Jika nyeri akibat saraf terjepit semakin berat, mengganggu tidur, atau disertai keluhan lain seperti kelemahan pada anggota tubuh, pemeriksaan medis diperlukan. Dokter dapat menentukan penanganan serta posisi istirahat yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.