“Flu itu justru menyebabkan batuk kering, gatal, seret kayak ada pasir di tenggorokannya, itu bisa berkepanjangan. Belum lagi ada rasa lelah, kemudian ada cepat capek, kok nggak seger-seger, itu khas sekali pada influenza yang memiliki tahapan mulai dari awal, kemudian makin berat, paling puncaknya di hari ke-4 sampai 5, mulailah penyembuhan. Walaupun dia recovery, tetapi tidak nyamannya bahkan bisa 2 mingguan lebih,” kata dia.
Anak dan Balita Lebih Rentan
Kelompok anak-anak, terutama bayi dan balita, menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam menghadapi infeksi influenza. Selain anak-anak, kelompok lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi berat.
Prof. Anggraini menjelaskan, sistem kekebalan anak yang masih berkembang membuat mereka lebih mudah terinfeksi. Berdasarkan penelitian yang mencakup anak hingga usia 17 tahun, risiko mengalami influenza bergejala disebut dua kali lipat dibandingkan orang dewasa.
“Penelitian ini sampai anak 17 tahun, dua kali lipat untuk mengalami flu yang bergejala dibandingkan dewasa. Dan anak-anak itu belum banyak terpapar oleh luar flu, sehingga yang masih kosong, rendah, belum mencukupi daya tahan tubuhnya, mudah terinfeksi,” kata Prof Anggraini.
Risiko penularan juga dapat meningkat pada anak yang berada di lingkungan dengan kepadatan tinggi, seperti tempat penitipan anak atau daycare. Anak dengan komorbid tertentu, terutama gangguan neurologi atau yang membutuhkan perawatan dalam jangka panjang, juga perlu mendapat perhatian lebih.
“Sehingga tidak heran, balita, kemudian yang memiliki komorbid terutama neurologi, atau yang butuh perawatan lama, atau anak-anak yang di daycare karena padat, termasuk juga di area yang padat, itu berisiko untuk terinfeksi oleh influenza,” katanya.