"Kajian ini menunjukkan pentingnya melihat manfaat pencegahan secara lebih menyeluruh. Dari perspektif pembayar layanan kesehatan, vaksinasi dengue diproyeksikan memberikan manfaat kesehatan yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan," ujar Prof. Jarir.
Menurut dia, jika dilihat dari perspektif masyarakat, manfaat vaksinasi bahkan diperkirakan lebih besar karena tidak hanya memperhitungkan biaya pelayanan kesehatan, tetapi juga biaya yang harus ditanggung keluarga, kehilangan produktivitas, serta dampak ekonomi lain yang muncul akibat infeksi dengue.
"Berdasarkan hasil pemodelan, implementasi vaksinasi dengue berpotensi menghasilkan penghematan biaya sebesar 329–731 juta dolar AS atau sekitar Rp5,2–11,5 triliun selama 20 tahun," jelasnya.
Dia menambahkan, "Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada pencegahan penyakit tidak hanya berpotensi meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang."
Kajian tersebut muncul di tengah masih tingginya beban dengue di Indonesia. Berdasarkan studi terbaru Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan FK-KMK UGM, total beban ekonomi akibat dengue pada 2024 diperkirakan mencapai 550,9 juta dolar AS atau hampir Rp9 triliun, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap.