Penemuan ALTNV menambah daftar virus yang dapat ditularkan melalui kutu.
Peneliti menemukan bahwa ALTNV dan DBV dapat beredar di wilayah yang sama serta memiliki kutu vektor yang sama. Kondisi tersebut membuat diagnosis menjadi semakin penting karena gejala yang ditimbulkan kedua infeksi dapat saling menyerupai.
Peneliti menilai diperlukan pemeriksaan yang dapat membedakan infeksi ALTNV dari DBV, terutama di daerah yang memiliki kasus SFTS.
Temuan tersebut juga menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap penyakit yang ditularkan melalui kutu, mengingat virus baru dapat ditemukan ketika dokter dan peneliti menyelidiki kasus yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan oleh patogen yang sudah dikenal.
Karena ALTNV berkaitan dengan paparan kutu, pencegahan utama adalah menghindari gigitan kutu, terutama ketika beraktivitas di area yang menjadi habitat kutu.
Masyarakat dapat mengenakan pakaian yang menutupi kulit, menggunakan pengusir kutu atau 'tick repellent', serta memeriksa tubuh dan pakaian setelah berada di area yang berpotensi terdapat kutu.