Bahkan, di antara pasien yang dinyatakan negatif DBV, sekitar 15,1 persen diketahui positif ALTNV. Temuan ini menunjukkan ALTNV kemungkinan menjadi salah satu penyebab penyakit demam setelah paparan kutu yang sebelumnya tidak diketahui penyebabnya.
Para peneliti juga menemukan materi genetik ALTNV pada 1,29 persen dari 47.428 kutu yang diperiksa dari 15 provinsi di China.
Prevalensi tertinggi ditemukan pada kutu Haemaphysalis longicornis, yang dikenal sebagai Asian longhorned tick. Sekitar 1,75 persen kutu jenis tersebut dalam penelitian membawa RNA ALTNV.
Eksperimen lebih lanjut menunjukkan H. longicornis dapat mempertahankan dan menularkan virus tersebut. Dalam penelitian pada hewan, kutu yang terinfeksi juga mampu menularkan ALTNV kepada tikus.
Infeksi ALTNV dapat menimbulkan gejala yang tidak spesifik sehingga sekilas menyerupai penyakit akibat virus lainnya.