صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ اَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ اَحتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ
“ … Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Baihaqi, dan lain-lain).
Berdasarkan hal tersebut maka hukum puasa Arafah adalah sunnah, dimana jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan juga tidak akan mendapat dosa.
Berbeda dengan puasa Arafah yang memiliki dalil kuat, dalil tentang puasa Tarwiyah justru dhaif atau lemah.
Sejumlah hadits tentang puasa Tarwiyah memiliki derajat dhaif (lemah) dan maudhu' (palsu).
Dalam salah satu hadist menyebutkan:
”Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun.”
Hadits tersebut berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’.
Para ulama kemudian menegaskan jika hadits tersebut adalah palsu. Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengatakan,” Hadis ini tidak shahih. Sulaiman at-Taimi mengatakan, ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan.’ (al-Maudhu’at, 2/198).”
Dengan demikian hadits di atas tidak dapat dijadikan dasar untuk melaksanakan puasa tarwiyah.