مٌّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُوۡنَ ۙ
Latin: Summum bukmun 'umyun fahum laa yarji'uun.
Arti: Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.
Dalam kitab Tafsirul Jalalain, kata ‘tuli’ pada ayat tersebut dapat diartikan sebagai sifat seseorang yang tidak mau mendengar kebenaran. Mereka juga disebut ‘bisu’, yang berarti enggan berucap mengenai kebenaran.
Sementara itu, ‘buta’ di ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang dimaksud tidak mau melihat petunjuk yang diberikan. Oleh sebab itu, mereka dikatakan ‘tidak dapat kembali’ karena dianggap telah tersesat.
Tafsir tersebut semakin diperkuat oleh kitab Jami‘ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an karya Imam At-Thabari yang mengutip dari ucapan sahabat bahwa surat Al Baqarah ayat 18 menjelaskan tentang orang-orang yang tuli, bisu, dan buta terhadap ajaran yang benar.
Selain itu, Abu Qatadah juga menjelaskan bahwa ‘laa yarji'uun’ adalah orang-orang yang tidak mengingat kebenaran dan tidak mau bertaubat.
Menurut kitab Ma‘alimut Tanzil fit Tafsir wa Ta’wil karya Imam Baghowi, surat Al-Baqarah ayat 18 diturunkan untuk umat Yahudi yang mengingkari adanya Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah atas kaum musyrikin Arab. Padahal sebelumnya, mereka begitu menanti kehadiran Muhammad.