"Ruben berkomunikasi dengan pihak sekolah, berapa besaran biaya-biaya anak-anak itu secara rutin. Sekolah cukup kooperatif, tapi aturannya satu siswa itu satu akun email. Ruben minta diganti ke akunnya karena dia yang bertanggung jawab bayar pendidikan sesuai Akta 39. Faktanya, S berkirim surat kepada sekolah, dia tidak bersedia akun email itu diganti ke Ruben. Jadi harus tetap melalui ibunya," ujar Minola.
Persoalan nafkah bukan satu-satunya hal yang membuat Ruben kecewa. Minola menyebut kliennya juga merasa kesulitan bertemu dengan anak-anak karena disebut harus menghadapi sejumlah syarat dan alasan.
"Bagaimana perasaan orang tua ketika dia dihalang-halangi oleh mantan pasangannya untuk tidak bertemu dengan anak-anaknya, dan ketika bertemu, diberikan 1001 macam alasan dan bermacam-macam syarat? Saya sangat sedih melihat Ruben itu tidak bisa bertemu dengan anak kandungnya. Coba bayangkan!" ucap Minola.
Minola pun membantah keras tudingan Ruben telah menelantarkan anak. Menurut dia, Ruben justru masih berusaha memenuhi kewajibannya dan meminta informasi mengenai kebutuhan anak-anak agar nafkah dapat diberikan sesuai kebutuhan.
"Penelantaran itu kalau menurut saya ketika orang tuanya enggak mau tahu lagi sama anaknya, cuek. Ini dia mau kok! Mau diskusi, mau ini, segala macam. Bahkan dia bertanya, mana biaya anak-anak? Ruben sedang menunggu berapa biaya pemeliharaan agar bisa dibayarkan, termasuk 8 bulan tertunda yang belum pernah diinformasikan," katanya.