Febrina menilai salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah belum terbukanya ruang percakapan mengenai menstruasi dan kesehatan reproduksi dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat edukasi mengenai menstruasi perlu diberikan secara berkelanjutan dengan bahasa yang mudah dipahami dan dekat dengan pengalaman sehari-hari remaja maupun perempuan.
Edukasi juga dinilai dapat membantu mengurangi stigma yang selama ini melekat pada menstruasi. Dengan informasi yang tepat, perempuan diharapkan tidak lagi merasa malu ketika membicarakan persoalan yang berkaitan dengan siklus menstruasi maupun kesehatan reproduksinya.
"Isu menstruasi dan kesehatan reproduksi masih belum selalu mudah dibicarakan secara terbuka dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, edukasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang relevan dan mudah dipahami oleh masyarakat," katanya.
Menurut Febrina, tantangan kesehatan perempuan juga tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Dukungan keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, lembaga sosial, hingga sektor swasta dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan perempuan memperoleh informasi dan dukungan yang memadai.