Yang membuat situasi semakin sensitif, wawancara tersebut dijadwalkan hanya sehari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan Korea Selatan atau Gwangbokjeol pada 15 Agustus.
Di tengah kontroversi, muncul berbagai reaksi keras di internet Korea. Ha Young sendiri tidak disebut melakukan aktivitas pro-Jepang. Kontroversinya berpusat pada sejarah leluhurnya dan cara keluarga memahami atau menceritakan sejarah tersebut.
Namun, karena Ha Young sebelumnya menceritakan sang kakek buyut dalam konteks kebanggaan keluarga, sebagian netizen mempertanyakan apakah dirinya mengetahui catatan sejarah tersebut.
Inilah yang membuat isu tersebut jauh lebih sensitif dibanding sekadar persoalan silsilah keluarga.
Di Korea Selatan, sejarah pendudukan Jepang pada 1910-1945 masih menjadi isu yang sangat sensitif. Karena itu, keterkaitan seorang figur publik dengan tokoh yang memiliki catatan kerja sama dengan pemerintahan kolonial dapat memicu reaksi luas.