JAKARTA, iNews.id – Piramida makanan selama ini dikenal sebagai panduan sederhana untuk mengatur pola makan seimbang. Model ini membantu menentukan jenis makanan apa yang perlu dikonsumsi lebih banyak dan mana yang sebaiknya dibatasi agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.
Namun, belakangan muncul pendekatan baru yang disebut piramida makanan terbalik. Berbeda dari konsep lama, pola ini menempatkan sayur, buah, serta protein sehat sebagai fondasi utama, sementara karbohidrat olahan dan gula justru berada di posisi paling atas.
Secara konsep, piramida makanan terbalik benar-benar membalik susunan yang sudah lama dikenal masyarakat. Dalam model ini, makanan yang dianjurkan paling banyak dikonsumsi adalah sayur dan buah segar, protein berkualitas, serta bahan pangan yang minim proses pengolahan.
Di bagian tengah piramida, terdapat kelompok makanan seperti produk susu rendah lemak, biji-bijian utuh, dan sumber karbohidrat yang lebih sehat. Sementara itu, bagian puncak diisi oleh makanan yang perlu dibatasi, seperti gula tambahan, makanan olahan, dan karbohidrat halus seperti roti putih atau fast food.
Susunan ini bertujuan menggeser fokus pola makan ke arah nutrisi padat yang lebih bermanfaat bagi tubuh. Selama ini, piramida makanan klasik kerap dinilai terlalu menonjolkan porsi karbohidrat, sementara sayur, buah, dan protein sehat justru mendapat porsi lebih kecil.