"Momen yang enggak bisa dilupakan ketika berdiri di panggung yang megah dan ditonton beribu orang di Indonesia. Aku juga pernah menghapalkan enam lagu dan enam koreografi sekaligus, waktu dua besar dulu. Tapi untungnya, aku selalu didampingi sama para pelatih yang sabar dan orang-orang hebat juga. Meski dididik secara keras, tapi mereka memberikan yang terbaik untuk penampilan saya,” ucapnya mengenang.
Tak hanya berbagi pengalamannya, Vita yang akan menjadi salah satu juri pra-audisi (Jupra) pada audisi KDI 2018 di Surabaya akhir pekan ini, berharap para peserta audisi tidak hanya mempertahankan cengkok dangdutnya saja. Dia ingin setiap peserta juga dapat mempertahankan dan melestarikan kesenian dari daerah masing-masing.
"Tetaplah menjadi diri sendiri, jangan lupa basic kita sebagai orang Jawa, jangan malu untuk menyanyikan lagu-lagu campursari. Karena pada dasarnya, lagu campursari itu sendiri juga suatu seni. Tetap berdangdut, tetap berkarya, dan jangan lupa tradisi lokalnya,” ujar wanita yang sempat merilis album campursari bertajuk Tresno Kuto Bayu ini.
Meski begitu, Vita juga tetap mengutamakan kualitas vokal dari para peserta audisi KDI 2018 di Kota Pahlawan, Surabaya nanti. Dia berharap kontestan tak hanya menguasai satu genre saja, namun juga lainnya yang bisa menjadi nilai plus pada penjurian nanti.
“Yang pasti, aku utamakan adalah kualitasnya. Kualitas itu nomor satu dan pasti juga ciri khas vokal dari teman-teman yang audisi. Kalau bisa, jangan cuma bisa satu genre saja, harus bisa dangdut, bisa campursari, bisa pop, dan lainnya,” katanya.
Audisi KDI Surabaya akan diselenggarakan di BK3S Convention Center (Jl. Raya Tenggilis Blok GG No. 10, Tenggilis Mejoyo, Surabaya, Jawa Timur 60292), 29 Juni hingga 1 Juli 2018, mulai pukul 08.00 WIB.