Sementara itu, di Mecklenburg-Vorpommern, posisi CDU bahkan terancam lebih serius. Dalam jajak pendapat ARD yang dilakukan 7-9 September terhadap 1.556 pemilih, CDU hanya memperoleh dukungan 7 persen, sedikit di atas ambang 5 persen untuk masuk parlemen negara bagian.
Hasil tersebut akan menjadi salah satu yang terburuk bagi CDU di negara bagian tersebut jika terealisasi. Namun, jajak pendapat bukanlah prediksi hasil pemilu dan masih dapat berubah hingga pemungutan suara selesai.
Situasi tersebut menjadi persoalan bagi Merz karena AfD, partai yang ingin ditekan pengaruhnya oleh CDU, justru terus memperoleh dukungan.
AfD memiliki basis kuat di sejumlah wilayah bekas Jerman Timur. Partai tersebut mengusung agenda anti-imigrasi dan pendekatan yang lebih ramah terhadap Rusia, sementara cabang tertentu AfD dikategorikan sebagai ekstremis sayap kanan oleh badan intelijen domestik Jerman. AfD dengan tegas menolak klasifikasi tersebut.
Di Mecklenburg-Vorpommern, AfD berharap dapat mengulangi kemenangan besar yang diraihnya di Saxony-Anhalt. Jajak pendapat ARD sebelum pemilu menunjukkan AfD memperoleh dukungan 38 persen, unggul lima poin persentase atas SPD yang berada di 33 persen.