Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, didampingi Menteri Dalam Negeri Fernando Grande Marlaska, mengunjungi perbatasan Ceuta pada Jumat.
Spanyol dan Maroko pada Kamis (30/7/2026) sepakat memperkuat koordinasi dan mempercepat pemulangan imigran yang memasuki Ceuta melalui jalur tidak resmi.
Mahkamah Agung Spanyol sebelumnya memutuskan, imigran yang dicegat di laut saat berusaha mencapai Ceuta atau Melilla, berhak secara hukum untuk menjalani sidang pemrosesan formal dan tidak langsung dipulangkan.
Ceuta, kota otonom Spanyol yang berada di pantai Afrika Utara, dikelilingi oleh pagar perbatasan. Kondisi itu mendorong para imigran untuk mencapainya dengan berenang.
Padahal jarak antara pantai di Fnideq dan beberapa titik pantai di dekat Ceuta berkisar antara 2 hingga 3 kilometer.
Imigran dari beberapa negara Afrika, termasuk Maroko, terus berusaha memasuki Ceuta secara ilegal, guna mencari penghidupan lebih baik.
Pada Mei 2024, Dewan Ekonomi Sosial dan Lingkungan Maroko menyatakan, sekitar 1,5 juta anak muda berusia antara 15 hingga 24 tahun di negara itu tidak bekerja, tidak bersekolah, atau tidak mengikuti pelatihan.