Aung San Suu Kyi: Pengadilan Kasus Genosida Berisiko Picu Kembali Krisis Rohingya

Nathania Riris Michico
Reputasi Suu Kyi ternoda oleh keputusannya memihak militer atas krisis Rohingya. (FOTO: Foto PBB / ICJ / AFP / File / Frank Van BEEK)

DEN HAAG, iNews.id - Peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi memperingatkan kasus genosida yang dibuka di pengadilan tinggi PBB terkait perlakuan Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya berisiko memulai kembali krisis di negara itu.

Di hadapan Mahkamah Internasional, pemimpin de facto Myanmar itu mengatakan bahwa kasus yang diajukan oleh Gambia itu bisa merusak rekonsiliasi yang sudah terbentuk.

Negara kecil Afrika, Gambia, menuntut Myanmar ke Pengadilan Internasional (International Court of Justice/ICJ) di Den Haag dengan tuduhan melakukan genosida. Gambia mendesak adanya tindakan darurat untuk mencegah kekerasan lebih lanjut terhadap Rohingya.

"Saya berdoa agar keputusan yang Anda buat dengan kebijaksanaan dan visi keadilan akan membantu kami menciptakan persatuan karena perbedaan," katanya kepada hakim dalam sambutan penutupnya di pengadilan setelah sidang selama tiga hari.

"Langkah-langkah yang menghasilkan kecurigaan, menabur keraguan, atau menciptakan kebencian di antara masyarakat yang baru saja mulai membangun fondasi kepercayaan yang rapuh dapat merusak rekonsiliasi," ujarnya, dalam pernyataan singkat enam menit, seperti dilaporkan AFP, Jumat (13/12/2019).

Editor : Nathania Riris Michico
Artikel Terkait
9 hari lalu

Terungkap, Encek si Napi Narkoba Masih Sempat Kirim Sabu ke Indonesia saat Buron

10 hari lalu

Polri Ungkap Jejak Buron Napi Narkoba yang Kabur dari Rutan: Lari ke Malaysia hingga Thailand

10 hari lalu

Tampang Buron Napi Narkoba usai Kabur dari Rutan dan Ditangkap di Myanmar

10 hari lalu

Napi Narkoba Kabur dari Rutan Lampung sejak 2024, Akhirnya Ditangkap di Myanmar

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal