“Kami tidak percaya bahwa semua vaksin akan menjadi tidak efektif sama sekali,” kata Swaminathan.
Pakar WHO Abdi Mahamud menuturkan, meski ilmuwan melihat antibodi netralisasi menurun beberapa bulan setelah vaksinasi, hampir semua data menunjukkan bahwa T-sel masih utuh. “Itulah yang kami benar-benar butuhkan,” ujarnya.
Dia berpendapat, selagi pertahanan antibodi dirusak dari beberapa penjuru, ada harapan bahwa T-sel, yang menjadi pilar kedua dalam respons imun, mampu mencegah penyakit parah dengan menyerang sel manusia yang terinfeksi.
Tedros juga mengatakan, China sebagai tempat pertama munculnya virus SARS-CoV-2 pada akhir 2019, harus bersedia menyerahkan data dan informasi terkait asal mula Covid-19 untuk membantu penanganan ke depannya.
“Kami perlu terus menggali informasi sampai kami mengetahui sumbernya, kami perlu mendorong lebih keras sebab kami harus belajar dari apa yang telah terjadi saat ini supaya dapat melakukan usaha yang lebih baik di masa depan,” ucap Tedros.