Laporan tersebut selanjutnya menunjukkan, di seluruh masyarakat Jerman, kalangan non-Muslim secara umum menganggap Muslim kurang memiliki kemampuan untuk berintegrasi. Mereka juga melihat Muslim memiliki kecenderungan untuk secara sadar menjauhkan diri dan menghindari kontak dengan pemeluk agama lain.
Sementara perempuan Muslimah yang berjilbab melaporkan, mereka sering menjadi sasaran permusuhan publik. Selain itu, laki-laki Muslim sering kali dicurigai memiliki ketertarikan pada kekerasan, ekstremisme, dan nilai-nilai patriarkal.
Para peneliti UEM mengatakan, penyamaan antara kesalehan Muslim dengan fundamentalisme agama jelas sangat bermasalah. Bahkan di kalangan masyarakat Jerman kini ada semacam keinginan untuk mendorong pembatasan hak-hak dasar umat Islam di bidang kebebasan beragama dan menolak hak mereka atas partisipasi yang setara.
Studi ini juga melihat partai politik Jerman. Di Bundestag (Parlemen Jerman), Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang berhaluan kanan keras dan populis, memiliki program anti-Muslim yang nyata. Sementara di blok oposisi terbesar—blok kanan-tengah Persatuan Demokrasi Kristen (CDU) dan Persatuan Sosial Kristen Bavaria (CSU) di tingkat regional—permusuhan laten terhadap Muslim dapat dilihat dalam pengakuan yang tidak konsisten terhadap Islam sebagai bagian dari bangsa atau budaya Jerman.
Adapun partai berkuasa Jerman, yaitu Partai Sosial Demokrat (SPD) yang berhaluan kiri-tengah, serta Partai Hijau, dan Partai Demokrat Bebas (FDP) yang berideologi neoliberal gagal memerangi rasialisme terlembaga secara konsisten.