KOLOMBO, iNews.id - Sri Lanka menerapkan langkah drastis demi menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah dampak perang Timur Tengah. Pemerintah bahkan membatasi penggunaan BBM dengan jatah hanya 5 liter per hari untuk sepeda motor dan 15 liter untuk mobil pribadi.
Kebijakan penjatahan BBM ini menjadi bagian dari upaya besar negara tersebut dalam menghemat energi. Warga diwajibkan mendaftar Kartu Bahan Bakar Nasional untuk mengontrol pembelian, meski aturan ini menuai keluhan karena dinilai terlalu membatasi kebutuhan harian.
Kedahsyatan dampak perang Timur Tengah memang mulai dirasakan Sri Lanka. Negara Asia Selatan itu pun memberlakukan serangkaian kebijakan baru demi menghemat energi dan bahan bakar minyak (BBM).
Mekanisme penjatahan BBM sendiri bukan hal baru bagi Sri Lanka. Kebijakan ini pertama kali diterapkan pada 2022 saat negara tersebut dilanda krisis ekonomi terburuk, yang menyebabkan kehabisan cadangan devisa dan ketidakmampuan mengimpor barang-barang penting, termasuk bahan bakar.
Sebagai informasi, hampir 90 persen dari seluruh minyak dan gas yang mengalir melalui Selat Hormuz ditujukan untuk Asia, yang merupakan kawasan pengimpor minyak terbesar di dunia. Kondisi ini membuat negara-negara di kawasan sangat rentan terhadap gejolak pasokan energi global.
Kebijakan lain yang diterapkan adalah memangkas hari kerja dalam sepekan menjadi 4 hari, dari sebelumnya 5 hari.