Iran menyebut gelombang migrasi tersebut sebagai operasi yang telah dirancang. Dalam pernyataannya, Teheran menilai krisis itu merupakan "hadiah" bagi kelompok sayap kanan ekstrem Eropa sekaligus hukuman bagi negara-negara yang tidak mengikuti keinginan AS dan Israel.
"Kekaisaran (AS) tidak pernah menoleransi pembangkangan," demikian pernyataan Iran, seperti dikutip dari RT, Selasa (4/8/2026).
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS maupun Israel terkait tuduhan tersebut. Namun Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengecam cara Spanyol menangani krisis perbatasan itu.
Sementara itu, krisis perbatasan Maroko-Spanyol telah menewaskan sedikitnya 86 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tenggelam di laut atau terinjak-injak ketika berusaha menerobos pos pemeriksaan perbatasan.