TEHERAN, iNews.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pengerahan armada militer, termasuk kapal induk, menuju kawasan yang menjadi dekat dengan perairan Iran.
Trump menyebutkan “armada besar” bergerak ke arah Teluk, meski berharap kapal-kapal tersebut tidak perlu digunakan dalam konfrontasi militer.
Menurut laporan terbaru, kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal pendampingnya telah menyelesaikan peningkatan kehadiran militer di Timur Tengah, menempatkan aset AS dalam jarak strategis terhadap Iran.
Iran Siaga dan Mengancam Balasan Keras
Di sisi lain, pemerintah Iran merespons langkah AS dengan pernyataan keras. Peringatan dari pejabat militer dan mural provokatif di tengah Teheran mencerminkan kesiapan Teheran menghadapi skenario terburuk, termasuk kemungkinan konflik besar jika terjadi serangan terhadap negaranya.
Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayor Jenderal Mohammad Pakpour memperingatkan AS dan Israel, jari para pasukannya sudah berada di pelatuk untuk merespons serangan.
Pakpour menjanjikan perlawanan sengit yang bisa menyakitkan para musuh jika serangan terjadi.
Komandan pasukan elite Iran itu juga memperingatkan AS dan Israel agar tidak bertintak gegabah karena dampaknya akan sangat besar.
"Takdir yang menyakitkan dan disesalkan (untuk setiap agresor. (IRGC) Lebih siap dari sebelumnya, siap menembak,” ujarnya.
Sikap ini menunjukkan, Iran sama sekali tidak meremehkan kehadiran kapal induk AS, justru menjadikannya alasan untuk menegaskan kesiagaan dan kemungkinan respons militer yang kuat jika secara nyata terjadi agresi.