Militer Myanmar Dilaporkan Sempat Coba Tarik Dana Rp14 Triliun dari Bank AS

Ahmad Islamy Jamil
Ilustrasi transaksi perbankan dengan mata uang dolar AS. (Foto: Ist.)

Seorang juru bicara junta militer Myanmar tidak menjawab panggilan telepon berulang kali dari wartawan untuk dimintai komentar terkait laporan tersebut. Reuters juga tidak dapat menghubungi pejabat di Bank Sentral Myanmar.

Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa, dan Inggris telah mengeluarkan sanksi baru terhadap Myanmar, pascakudeta dan tindakan keras tentara di negara Asia Tenggara itu terhadap para demonstran. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (4/3/2021) menyatakan, sedikitnya 54 orang telah tewas sejak kudeta. 

Selain itu, lebih dari 1.700 orang telah ditangkap aparat Myanmar, termasuk 29 wartawan.

Pada 10 Februari lalu, Joe Biden mengatakan, Amerika Serikat mengambil sejumlah tindakan untuk mencegah para jenderal Myanmar “memiliki akses yang tidak semestinya” ke dana Pemerintah Myanmar senilai 1 miliar dolar AS yang disimpan di negeri Paman Sam.

Perintah eksekutif yang dikeluarkan Biden keesokan harinya secara khusus menyebutkan bahwa Bank Sentral Myanmar adalah bagian dari Pemerintah Myanmar. Dua sumber mengatakan, perintah eksekutif itu dirancang untuk memberi The Fed di New York otoritas hukum untuk menahan dana cadangan Myanmar senilai 1 miliar dolar AS itu tanpa batas waktu.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
57 tahun lalu

AS Batalkan Gencatan Senjata, Ini Tanggapan Keras Iran

57 tahun lalu

Trump: AS Akan Serang Iran Lagi Malam Ini

57 tahun lalu

Trump Hentikan Seluruh Kerja Sama Perdagangan dengan Spanyol, Kenapa?

57 tahun lalu

Perang Pecah Lagi, Trump: Saya Tak Mau Negosiasi Lagi dengan Iran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal