Hasil tersebut juga menjadi kemunduran bagi gerakan politik keluarga Bolsonaro. Flávio gagal mengulangi keberhasilan ayahnya, Jair Bolsonaro, yang pada 2022 mampu mengalahkan Lula di kotak suara.
Kemenangan Lula menjadi sorotan karena dia kembali mendapatkan kepercayaan publik di tengah berbagai persoalan yang dihadapi Brasil, mulai dari lonjakan biaya hidup, maraknya kriminalitas, hingga korupsi. Hasil pilpres ini juga berlangsung saat kecenderungan politik sayap kanan semakin menguat di Brasil dan sejumlah negara Amerika Latin.
Kemenangan Lula turut mencatat sejarah dalam perjalanan demokrasi Brasil. Sejak pemilihan presiden langsung digelar pada 1989, belum pernah ada kandidat yang berhasil merebut kursi kepresidenan setelah menempati posisi kedua pada putaran pertama.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengaku memantau jalannya pilpres Brasil putaran kedua sebelum pemungutan suara ditutup pada Minggu. Trump tidak secara terbuka mendukung salah satu kandidat, tetapi sebelumnya memuji kinerja Flávio pada putaran pertama dan menyebut pemilihan tersebut sangat penting.
Kedekatan Flávio dengan Trump membuat persaingan pilpres Brasil turut menjadi perhatian di luar negeri. Namun, hasil pemungutan suara akhirnya memastikan Lula tetap memimpin negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin tersebut.
Kemenangan ini membuka jalan bagi Lula untuk melanjutkan kepemimpinannya di tengah tantangan ekonomi, keamanan, dan dinamika politik domestik Brasil yang masih kuat.