Dia juga pernah menjabat wakil perdana menteri yang bertanggung jawab atas urusan ekonomi pada periode 2013 hingga 2014. Di tahun yang sama dia memimpin komite yang bertugas membangun kembali Gaza setelah perang 7 minggu yang menewaskan lebih dari 2.100 warga Palestina.
Bagi Mustafa, Gaza memang bukan wilayah garapan baru meski PA hanya memegang kendali di Tepi Barat. Dia dipercaya memimpin upaya rekonstruksi di wilayah itu setelah perang Israel dan Hamas pada 2014.
Tugas yang sama kini diembannya, namun konflik 10 tahun lalu jauh berbeda dengan saat ini. Kehancuran di Gaza sangat masif, lebih dari 60 persen bangunan, baik permukiman dan fasilitas, tinggal puing-puing akibat kebrutalan Israel.
Berbicara di Forum Ekonomi Davos, Swiss, pada 17 Januari lalu, Mustafa mengatakan bencana dan dampak kemanusiaan dari perang saat ini jauh lebih besar dibandingkan satu dekade lalu.
Mustafa juga menyebut serangan lintas batas Hamas ke Israel pada 7 Oktober sebagai hal yang disayangkan. Namun dia menegaskan dari kejadia ini terungkap akar dari masalah lebih besar yang diderita rakyat Palestina selama 75 tahun.