“Sampai saat ini kita masih meyakini bahwa kenegaraan bagi Palestina adalah jalan ke depan, sehingga kami berharap kali ini bisa mewujudkannya, sehingga seluruh masyarakat di kawasan bisa hidup aman dan damai,” ujarnya, saat itu.
Sekitar 85 persen dari total 2,3 juta penduduk Gaza terpaksa mengungsi dalam kondisi kekurangan makanan dan air bersih.
Bukan hanya Gaza, Tepi Barat juga mengalami kekerasan terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Selain mengawasi miliaran dolar bantuan internasional, Mustafa juga membutuhkan dukungan politik dari Hamas dan para pendukungnya. Di saat bersamaan PA juga harus menjaga hubungan dengan Israel.
Menurut Mustafa, Pemerintah Otoritas Palestina bisa berbuat lebih baik dalam membangun institusi, membentuk pemerintahan bersatu yang dapat menyatukan kembali Gaza dan Tepi Barat. Namun dia punya cita-cita yang harus dikerjakan lebih dulu sebelum mewujudkan persatuan Palestina, yakni mengusir Israel dari wilayah pendudukan. Mustafa menegaskan hanya dengan mengusir Israel dari wilayah pendudukan, Palestina bisa berkembang, termasuk perekonomiannya.
"Jika kita tidak bisa menghapus pendudukan (Israel), tidak ada reformasi pemerintahan, tidak ada institusi yang direformasi yang benar-benar bisa membangun sistem pemerintahan yang berhasil atau mengembangkan perekonomian yang baik," katanya.