Angka itu menjelaskan bahwa warga kulit putih menikmati struktur ketimpangan yang terjadi di Amerika karena menguntungkan mereka dari sisi pengupahan. Di sisi lain, kelompok minoritas, terutama kelompok minoritas Amerika Latin, banyak dirugikan.
Warga AS keturunan Amerika Latin secara demografis menduduki urutan kedua terbanyak atau 18,3 persen dari total penduduk AS sebanyak 329 juta pada 2019. Kelompok kulit hitam menempati urutan ketiga, sebesar 13,4 persen, sisanya kelompok etnis Asia.
Apabila kesenjangan upah yang dialami oleh kelompok minoritas dihapuskan, misalnya besar kesenjangan yang dialami oleh perempuan pekerja warga keturunan Amerika Latin seperti contoh di atas, maka mereka bisa mendapatkan fasilitas dan pendidikan yang dapat membuka mobilitas vertikal mereka. Misalnya, mereka bisa mendapatkan tiga tahun tambahan biaya kuliah di universitas negeri selama empat tahun, atau biaya masuk perguruan tinggi swasta selama dua tahun.
Biaya ini dapat membantu mahasiswa keturunan Amerika Latin yang kesulitan membiayai kuliahnya. Mereka juga bisa menempatkan anak mereka selama 36 bulan agar mereka bisa bekerja atau mendapatkan tambahan 20 bulan tambahan premi untuk asuransi kesehatan dari perusahaan.
Dengan kata lain, kita dapat menjelaskan bahwa struktur demografi penduduk dan struktur pengupahan menjadi saling melengkapi dan memfasilitasi menguatnya paham rasialisme di AS terlepas dari semakin membesarnya kelompok-kelompok di masyarakat Amerika yang menyadari bahwa paham rasialis ini melanggar hak asasi manusia (HAM) kulit berwarna.