Selain itu, Musk juga terlibat dalam sejumlah perusahaan teknologi lainnya, seperti Neuralink yang mengembangkan antarmuka otak-komputer, The Boring Company yang fokus pada sistem transportasi bawah tanah, serta xAI yang bergerak di bidang kecerdasan buatan.
Karier bisnis Musk dimulai dari perusahaan perangkat lunak Zip2 yang kemudian dijual pada 1999. Setelah itu, ia mendirikan X.com yang berkembang menjadi PayPal dan diakuisisi eBay pada 2002. Dana hasil penjualan PayPal digunakan Musk untuk membangun SpaceX dan berinvestasi di Tesla.
Berkat kesuksesan berbagai bisnisnya, Musk berkali-kali menyandang gelar orang terkaya di dunia versi Forbes. Pada Juni 2026, dia mencatat sejarah sebagai orang pertama yang memiliki kekayaan lebih dari 1 triliun dolar AS, didorong oleh lonjakan valuasi SpaceX dan kepemilikannya di Tesla.
Musk pertama kali masuk daftar miliarder dunia Forbes pada 2012 dengan kekayaan sekitar 2 miliar dolar AS. Nilai kekayaannya kemudian melonjak seiring kenaikan harga saham Tesla dan perkembangan bisnis SpaceX.
Setelah sempat bergantian menjadi orang terkaya dunia dengan pendiri LVMH Bernard Arnault, Musk kembali merebut posisi teratas pada 2024 dan terus memperlebar jarak. Dalam waktu singkat, kekayaannya melampaui 400 miliar dolar AS, 500 miliar dolar AS, hingga akhirnya menembus 1 triliun dolar AS.
Faktor terbesar di balik lonjakan tersebut adalah kenaikan valuasi SpaceX yang kini menjadi aset paling berharga milik Musk. Sejak 2021, valuasi perusahaan itu melonjak hampir 20 kali lipat, dari sekitar 100 miliar dolar AS menjadi hampir 2 triliun dolar AS.
Meski SpaceX masih membukukan rugi bersih sekitar 4,9 miliar dolar AS pada 2025, investor tetap optimistis terhadap prospek bisnis perusahaan, terutama melalui jaringan satelit Starlink, program kolonisasi Mars, dan rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa.