Kerajaan Panjalu dan Jenggala merupakan dua kerajaan yang berada di kawasan Mataram Kuno. Perang ini diketahui terjadi karena perebutan kekuasaan dalam takhta Kahuripan.
Melansir Okezone, Raja Kahuripan yang kala itu memimpin, Airlangga, berniat mewariskan tahtanya kepada putri mahkota bernama Sanggramawijaya Tunggadewi. Namun, Tunggadewi memilih untuk menimba ilmu batin dan tidak ingin menjadi pemimpin.
Mengetahui keinginan tersebut, Airlangga meminta saran kepada Mpu Bharada dan akhirnya memutuskan untuk membagi wilayah kekuasaannya menjadi dua, yakni Panjalu atau Kediri dan Jenggala kepada kedua putranya.
Sri Samarawijaya berhak atas kekuasaan di Panjalu, sedangkan Mapanji Garasakan diamanahi kekuasaan di Jenggala. Sayangnya, kedua putra raja ini berselisih hingga mengakibatkan perang.
Dalam perang ini, kedua belah pihak sama-sama memperebutkan wilayah. Perang memuncak ketika Raja Airlangga wafat. Perang ini berlangsung selama 60 tahun dengan kemenangan di pihak Kerajaan Panjalu.
Selanjutnya, ada Perang Paregreg yang terjadi selama dua tahun, yakni dari 1404 sampai 1406. Perang ini terjadi antara istana barat Majapahit pimpinan Wikramawardhana dengan istana timur Majapahit yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi.
Perang Paregreg dimulai dari pemberontakan yang dilakukan Bhre Wirabhumi, yang kemudian menjadi salah satu faktor kemerosotan Majapahit. Dalam artikel karya Soeroso bertajuk ‘Bhattara Narapati’, Perang Paregreg berujung pada hancurnya kerajaan timur dan tewasnya Bhre Wirabhumi.
Dalam Pararaton, disebutkan bahwa Bhre Wirabhumi dibunuh pada tahun 1406 ketika sedang melarikan diri dengan perahu. Kepalanya dipenggal, dan dibawa kembali ke Majapahit.