"Tantangan terbesar bukan lagi sekadar memiliki akses terhadap informasi, melainkan mengetahui bagaimana cara mempertanyakannya, melakukan verifikasi, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Karena itulah berpikir kritis menjadi firewall terkuat yang kita miliki," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah yang hadir mewakili Wali Kota Depok menilai pengalaman mengikuti ajang ini dapat melatih pelajar memahami perbedaan dan membangun kesepakatan.
"Melalui acara ini, adik-adik tidak hanya belajar menjadi delegasi sebuah negara, tapi juga belajar menjadi pimpinan masa depan yang mampu mendengarkan, menghargai perbedaan, membangun konsensus dan menyampaikan gagasan dengan tanggung jawab," ujar Chandra.
Senada, Direktur Pendidikan SIT Al Haraki Susi P Krisnawan mengatakan pendidikan tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan generasi muda untuk berkontribusi di tingkat global.
"Acara ini bukan sekadar konferensi. Ketika semakin banyak sarana pendidikan yang mengembangkan program seperti ini, kami sesungguhnya tidak hanya mempersiapkan siswa untuk mengikuti kompetisi, kami sedang mempersiapkan generasi yang mampu membangun jembatan, memiliki dialog daripada perpecahan, serta memimpin dengan kecerdasan dan integritas," kata Susi.