Sementara itu, Kalimantan Tengah telah menjalankan 48 sorti OMC sejak 26 Agustus dengan menggunakan 43.800 kilogram NaCl. Selama kegiatan tersebut, volume curah hujan yang dihasilkan dilaporkan mencapai 67,45 juta meter kubik.
Posko bantuan dari Kalimantan Selatan juga mulai beroperasi pada 18 Oktober untuk mengatasi kendala jarak pandang di Kalimantan Tengah. Dalam dua sorti, operasi ini menggunakan 800 kilogram dry ice dan 800 kilogram NaCl.
Laporan dari lapangan serta alat pengukur cuaca AWS/ARG mencatat hujan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kapuas, Gunung Mas, dan Barito Timur.
Di Kalimantan Selatan, operasi yang dimulai sejak 10 Oktober telah mencapai 23 sorti dengan penggunaan 23.000 kilogram NaCl. Dengan dukungan dua unit pesawat, volume curah hujan yang dihasilkan selama pelaksanaan OMC dilaporkan mencapai 222,67 juta meter kubik.
Hujan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Tabalong, Tapin, dan Barito Kuala.
Adapun di Kalimantan Barat, OMC telah berlangsung sejak 22 Agustus dengan total 107 sorti dan penggunaan 98.800 kilogram NaCl. Volume curah hujan yang dihasilkan selama operasi dilaporkan mencapai 471,2 juta meter kubik.
Pada 19 Oktober 2026, hujan tercatat di Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kayong Utara, Pontianak, Bengkayang, Kapuas Hulu, Ketapang, serta Kota Singkawang.
Pemerintah terus mengoptimalkan OMC dan metode dry ice untuk membantu penanganan karhutla. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan peluang turunnya hujan sekaligus mengurangi dampak asap di wilayah terdampak.