Dapatkah Pemanasan Global Diatasi lewat Perdagangan Karbon?

iNews
Arifin Lambaga, Praktisi dan Pemerhati Industri Testing, Inspection, Certification (TIC)  (Foto: Dok Pribadi)

Tenggelamnya daratan jadi penyebab tergesernya garis pantai yang jadi patokan batas antarnegara. Sengketa antarnegara, jadi ancaman aktual. Di sisi lain, pemanasan itu merupakan pengubah proses fisika global. Pemanasan yang terus meningkat menyebabkan pencairan dan proses pencairan menyebabkan mudah jenuhnya udara oleh uap air. Udara jadi tinggi kelembapannya. Ini pada gilirannya memengaruhi gerakan dan kecepatan angin. Ketika angin adalah udara yang bergerak, perubahannya memengaruhi material yang digerakkannya: air, debu molekul-molekul bermuatan listrik. Tak jarang menghasilkan tornado, topan dan petir. Jika hari ini sering  terjadi bencana, seluruhnya dapat dikaitkan dengan ekstremnya pemanasan itu. 

Perubahan proses fisika pula yang memengaruhi berubahnya pola musim. Di Indonesia yang musim kemaraunya lazim terjadi di bulan April hingga Oktober, dan musim hujannya terjadi pada bulan Oktober hingga April, sejak beberapa dekade terakhir ini mengalami perubahan. Keadaan musim yang jelas bedanya maupun waktu kedatangannya yang pasti, dapat dijadikan pedoman. Termasuk pedoman untuk menentukan masa tanam dan panen. Karenanya, saat polanya berubah, tak bisa lagi dijadikan sebagai pedoman. Tak menentunya musim panas dan panen ini dalam jangka panjang mengakibatkan terjadinya krisis pangan global. 

Runtutan perubahan akibat pemanasan yang terus meningkat itu, jika diuraikan lebih lanjut akan terurai sangat luas pengaruhnya. Namun satu hal yang pasti, emisi gas yang menyebabkan efek rumah kaca itu banyak disumbang oleh karbon. Buangannya yang terus meningkat didorong oleh aktivitas manusia: pemakaian kendaraan maupun pengoperasian mesin manufaktur yang digerakkan oleh bahan bakar fosil. Juga makin menurunnya kemampuan permukaan bumi menyerapnya. Ini lantaran deforestasi. Penebangan tanaman di hutan yang menghilangkan kemampuannya menyerap karbon. Karbon yang bergelantungan di atmosfir bumi, menghalangi pantulan panas matahari. Ini menghasilkan pemanasan yang terus meningkat.

Kembali pada pertanyaan di atas, apa yang dilakukan para ilmuwan? Para ilmuwan lingkungan yang telah menemukan akar permasalahannya kemudian menyuarakan pengurangan emisi karbon. Tapi bagaimana caranya? Ilustrasi ringkasnya: dengan bekerja bersama ahli ekonomi, ahli perilaku maupun ahl-ahli sosial lainnya, ahli lingkungan menciptakan skema perdagangan karbon

Mengacu pada uraian Jennifer L, 2022, dalam tulisannya “The Top 4 Carbon Exchanges for 2024”: perdagangan karbon adalah proses jual beli kredit karbon. Kredit ini memberi izin perusahaan maupun entitas lain yang menghasilkan karbon, boleh mengeluarkan karbon dalam batas tertentu. Akibatnya, ketika suatu perusahaan atau entitas mengeluarkan karbon melebih batas, harus membayarnya. Ini adalah denda. Sebaliknya ketika perusahaan atau entitas berhasil menekan emisinya, dapat menjual kreditnya kepada perusahaan yang emisinya berlebihan. Perusahaan yang berhasil menekan emisinya, berarti batas kuotanya tersedia atau utuh kembali.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Kaltim
2 bulan lalu

COP30, Menteri Hanif Tegaskan Perdagangan Karbon Harus Sejahterakan Desa

Nasional
3 bulan lalu

Pemerintah Terbitkan Perpres Genjot Perdagangan Karbon, Menhut: Masa Depan Ekonomi Hijau

Bisnis
7 bulan lalu

Komitmen Jaga Lingkungan, MIND ID Targetkan Penurunan Emisi 21,4 Persen pada 2030

Bisnis
11 bulan lalu

Bank Mandiri Unjuk Komitmen Aktif dalam Perdagangan Karbon Internasional

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal