konflik Israel-Palestina (foto: AFP)
puti aini yasmin

JAKARTA, iNews.id - Konflik Israel-Palestina selalu menjadi bahasan yang tidak kunjung usai. Pakar dari Universitas Airlangga (Unair) pun membeberkan penyebab konflik masalah yang terus berlangsung hingga saat ini.

Menurut Dosen Hubungan Internasional Unair Fadhila Inas Pratiwi, konflik Israel-Palestina pada dasarnya telah berlangsung lebih dari lima dekade. Bahkan, konflik tersebut telah mendapat kecaman dari dunia, termasuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dengan mengeluarkan resolusi.

"PBB banyak mengeluarkan resolusi dalam konflik Israel dan Palestina," ucap dia dikutip dari laman resmi Unair, Kamis (28/5/2022).

Tak hanya PBB, negara-negara di seluruh dunia juga banyak membantu proses diplomasi. Hanya saja, tindakan tersebut tidak pernah berkembang dan meredakan konflik yang ada.

“Melihat dari sisi sejarahnya, PBB bersama negara lain banyak melakukan proses diplomasi penyelesaian konflik Israel-Palestina. Dari UN Security Council Resolution tahun 1967, Camp David Summit 1978, Madrid Conference 1991, Oslo Agreement, Roadmap for Peace 2003, Annapolis Conference 2007 dan pertemuan-pertemuan untuk menyelesaikan konflik ini. Namun tidak ada perkembangan yang signifikan dan konflik masih terus terjadi hingga detik ini”  tutur Fadhila.

Meski telah melakukan banyak upaya, kata Fadhila, PBB memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan konflik. Terlebih Israel yang tidak mengindahkan kecaman internasional membuat konflik masih terus terjadi hingga saat ini.

Tindakan Israel tersebut pun tidak dibenarkan oleh masyarakat internasional dan dinilai sebagai bentuk kejahatan. Untuk itu, yang bisa dilakukan sekarang adalah mengupayakan kepentingan Palestina agar menjadi prioritas internasional.

“Jadi, kita tidak boleh pesimis dalam melihat konflik Israel dan Palestina ini. Harapan masih selalu ada. Indonesia juga selalu berusaha menyuarakan kepentingan Palestina di forum PBB agar lebih mengutamakan penyelesaian konflik tersebut,” ucapnya.

Adapun, penyebab konflik Israel-Palestina yang masih berlangsung dikarenakan empat hal, yakni isu territorial, isu Jerussalem, isu refugees Palestina yang meminta haknya kembali ke Tanah Air dan kedua negara ingin mencapai keamanan bagi rakyatnya. Isu tersebut sulit disepakati di meja perundingan.

Apalagi, hubungan diplomasi Israel dengan negara-negara Arab juga membuat konflik Israel-Palestina tidak mendapatkan perhatian lagi dan akhirnya sulit untuk mencapai kata damai.

“Hubungan diplomasi Israel yang semakin akrab dengan negara-negara Arab, semakin membuat konflik Israel-Palestina kehilangan momentum untuk mendapatkan perhatian sehingga sulit untuk bisa diselesaikan,” kata Fadhila.



Editor : Puti Aini Yasmin

BERITA TERKAIT